KISAH PILU ;
AYAH dan SUAMINYA beruntun meninggal akibat covid-19. Dia dan Ketiga anaknya
pun terpapar. BAGAIMANA perjuangan mereka melawan Covid-19 ??? *rr
Bismillah....
Keluarga kami ber 5. Abi, saya, kakak Damar (15
thn), kakak Nasty (9 thn) dan adek Dewi (7 thn). Keluarga kami sangat mentaati
protokol kesehatan selama pandemi ini. Bahkan, Abi sangat getol mengajak warga
di lingkungan rumah kami untuk taat dg aturan segala macamnya. Beliau aktif sbg
relawan Covid di kelurahan. Abi WFH sejak 16 Maret 2020, bersamaan dg anak2
mulai SFH.
πΈπΈπΈπΈ
Hingga...
Kamis siang, 7 Mei (14 Ramadhan) tiba2 kami
ditelpon ibu dari Surabaya, bahwa kondisi Abah drop. Ba'da dhuhur, berangkatlah
kami ke Sby. Mengabaikan segala macam komitmen kami. Betul, kondisi Abah tidak
baik. Sampai akhirnya, setelah berbuka puasa, kami bawa Abah ke RSAL Dr.
Ramelan. Abi pulang ke rumah Sidoarjo sekitar pkl 20.30. Dan saya yg stay di
RSAL untuk menjaga Abah. Alhamdulillah kondisi membaik, Abah boleh pulang.
πππππ
Jumat, 8 Mei 2020.
Abi mulai mengeluh tidak enak badan. Mungkin
kecapekan saja kemarin bolak balik ke RS.
Sabtu - Ahad 8-9 Mei 2020
Kondisi badan masih kurang fit
Senin, 11 Mei 2020
Ibu kembali telpon, kondisi Abah drop lagi. Pkl 10,
kami berangkat ke Sby. Sampai disana, Abi sudah bener2 lemes, hanya bisa
tiduran dikursi. Dan saya pun tiba2 panas hingga 39.5 derajat. Setelah
mengkondisikan Abah, kami pamit pulang sekitar pkl 14.00.
Sampai rumah, berdua kami terbaring di tempat
tidur.
Suhu tubuh Abi kisaran 37 - 37.5 derajat. Suhu
tubuh saya yg selalu tinggi, diatas 39. Allah... Kami berdua sakit, saling
menguatkan, saling merawat. Sampai Abi sampaikan "umi ini kuat banget,
sepertinya Abi yg tidak kuat". Gejala yg kami rasakan, demam, badan lemas,
terasa nyeri disetiap persendian, hilang indera perasa. Sampai hari Rabu,
alhamdulillah kondisi saya membaik. Abi, masih tetap sama. π
π€π€π€π€π€
Kamis, 14 Mei 2020
Dg segala pertimbangan, kami berangkat ke RS Rahman
Rahim Sukodono. Saya khawatir dg kondisi Abi yg semakin lemas, tidak bisa
merasakan makanan apapun & tidak bisa makan apapun. Sampai di IGD RS,
langsung pasang infus, cek darah. "Trombosit bapak turun bu, kemungkinan
DB", baiklah, rawat inap menjadi solusi.
Tetiba hati ini bergetar, Allah,,, jika rawat inap,
maka anak2 hanya bertiga saja dirumah. Bismillah, kami titipkan penjagaan anak2
kami pada-Mu ya Allah, Engkaulah sejatinya pemilik mereka & Engkaulah
sebaik2 penjaga. Semoga bisa menjadi sarana pembelajaran bagi kami semua.
➡️➡️➡️
3 hari di rawat inap, trombosit bagus, sudah mulai
naik. Hari Sabtu, tiba2 Abi mengeluh sesak napas, berat sekali rasanya setiap
bernafas, langsung tindakan rontgen, konsul dg Dr. Wahyu, Sp.P. injeksi
Levofloxacin. Alhamdulillah membaik, sebentar saja.. Kembali sesak napas. Hari
Ahad, beliau masuk HCU. Dokter sampaikan, bahwa Abi harus dirujuk ke RS rujukan
Covid. Ya Allah ya Rabb... Apalagi ini? Kenapa RS rujukan Covid?
Hasil RT beliau negatif non reaktif, di ulang 2x
selama di RS Rahman Rahim. Tapi, hasil rontgen, paru2 kanan Abi sudah terlihat
putih. Entah bakteri, virus,,, suara dokter yg sedang bicara, tidak bisa saya
cerna sama sekali.π
π€π€π€π€π€
Qodarullah semua ruang isolasi di RS rujukan penuh.
Hingga pkl 21.30 saya mendapat kabar bahwa Abah meninggal dunia. Sedih sekali
hati ini, mendengar berita tersebut. Ketika Abah berpulang, saya menunggu
ketidakpastian suami di ruang HCU. Senin dini hari, dapat berita bahwa RS Anwar
Medika siap menerima beliau. Bismillah berangkat kesana. Tepat adzan Shubuh
Senin 18 Mei, suami masuk ruang isolasi RS Anwar Medika. Melepas beliau sendiri
menuju ruang isolasi.
➡️➡️➡️
Senin, 18 Mei, swab tes dilakukan pada Abi.
➡️➡️➡️
Selasa, 19 Mei. Dokter sampaikan kondisi beliau
kurang baik & membutuhkan ventilator untuk alat bantu napas. Semua RS dg
alat tersebut penuh, sampai kami mencari keluar kota. Semua teman, kerabat,
relasi saling membantu mencarikan info RS dg ruangan isolasi & ventilator
yg ada.
➡️➡️➡️
Rabu, 20 Mei 2020
Alhamdulillah, ada ventilator di RS Anwar Medika yg
bisa dipakai. Mulailah dipasang alat tersebut. Bersyukur, bahagia ketika dokter
sampaikan kondisi Abi mulai stabil. Sampai hari Kamis 21 Mei. Karena merasa
sudah lebih aman, saya pun pulang kerumah melihat kondisi 3 anak yg selama ini
kami tinggal dirumah. Bahkan Kamis malam, saya bisa tidur bersama sikecil Dewi,
yg mulai merindukan Abi nya π
➡️➡️➡️
πππ
Jumat, 22 Mei.
Pkl 08.30 berangkat lagi ke RS. Sampai RS, pkl
09.15. Tilawah di musholla, hingga menjelang dhuhur, perawat mencari...
Disampaikan bahwa kondisi Abi tidak sadar, koma. Akan dilakukan intubasi. πππ Mulai bergetar hati ini. Ya Allah,
kejutan apa ini? Sekitar pkl 13.00 dipanggil lagi oleh perawat, ibu tadi sempat
hilang denyut jantung bapak, sekarang alhamdulillah muncul lagi. Bantu doa ya
bu.... Alhamdulillah, bersyukur sekali, bahagia... Hingga pkl 14 lewat sekian,
bukan perawat yg memanggil, tapi dokternya. Disampaikan bahwa, denyut jantung
bapak kembali.. hilang. Sudah dilakukan tindakan selama 10 menit, tetap tidak
muncul. Obat2 yg diberikan, semua ditolak oleh tubuh bapak. Dan,,, denyut
jantung bapak, flat di monitor. πππππ
ibu yg sabar ya...
waktu seolah berhenti saat itu juga. Berharap
dokter ini salah bicara... Tapi, ya memang inilah kenyataan yg harus kami
hadapi. Abi benar2 meninggalkan kami didunia ini. Proses di RS diselesaikan
sore itu juga. Pkl 20.00 ambulance berangkat ke Ngawi untuk proses pemakaman.
Selesai pkl 23.00, kami ber 4 (saya & anak2 langsung kembali ke Sidoarjo).
Perjalanan kami ber 4.
Sendiri saja dirumah, dg semua kenangan Abi. 3 hari
3 malam tidak bisa tidur. Hingga kakak Nasty (no 2) nangis, she said:
"umi, kenapa ga tidur. Aku pingin lihat umi tidur, umi jangan sakit",
sambil mengelus kepala saya. Sulung saya memijit telapak kaki, sambil
bercucuran air matanya (dia selalu tersedu setiap selesai QL dg saya). Si
bungsu, menangis juga sambil memeluk tangan saya disampingnya. Allah... Berilah
kami kekuatan melalui semua ini.
➡️➡️➡️
Banyak pihak menyarankan kami menjalani Rapid Test
(RT). Masih enggan sebenernya berurusan kembali dg RS. Tapi, demi kebaikan
bersama, dan juga muncul batuk pada sulung saya, tubuh saya pun terasa
nggregesi, maka,,,bismillah, tgl 27 Mei kami ber 4 menjalani RT secara mandiri,
bertepatan dg 7 hari meninggalnya Abi.
Kami berangkat pkl 13.30. Semua di tes. Pihak RS
sampaikan sekitar 1 jam saja. Tapi nyatanya, sampai Ashar, blm ada panggilan.
Kami ber 4 menuju masjid utk Ashar berjamaah. Pkl 16.15, kami dipanggil. Wajah
dokter, perawat tegang semua. Astaghfirullah,,,, kami ber 4 reaktif ππ.
Seketika, istighfar tak henti2nya. Lutut langsung lemas, pikiran seakan
down seketika. Cobaan apalagi ini ya Allah. Hasil anak2 semua menunjukkan IgG+,
hasil saya IgG+, IgM+.
Diskusi dg dokter tetap lanjut. Kami (saya) minta
isolasi mandiri dirumah. Pihak RS mengijinkan, dg syarat menandatangani surat
pernyataan. Dan menyerahkan tanggung jawab selanjutnya pada pribadi. Disarankan
segera PCR. Saya berusaha negosiasi lagi, saya sampaikan, "dokter, beri
kami waktu 1 pekan utk memperbaiki kondisi tubuh kami. Setelah itu, ijinkan
kami kembali untuk RT. Jika hasilnya masih reaktif, saya komitmen, akan
menuruti apapun advice dokter". Alhamdulillah dokter memberikan
kesempatan.
Urusan RS beres, pulanglah kami dg naik go car.
Banyak istighfar, sholawat, semoga drivernya aman, dilindungi dari virus2 jahat
dalam tubuh kami.
Sampai rumah, menghungi beberapa orang &
mengabarkan kondisi kami.
MasyaAllah terharu, nangis, antara sedih, takut
& bahagia. Betapa Allah kirimkan orang2 baik. Teman, kolega rasa saudara.
Begitu banyak yg perhatian pada kami, sayang pada kami, menginginkan kesembuhan
& kesehatan kami.
Ada yg mengirimkan madu, vitamin, susu, buah, makanan
selama kami isolasi. Tidak diperkenankan utk berpikir apapun. Fokus pada
kesehatan kami ber 4. Sekolah anak2,,, Allahu Akbar, beasiswa penuh π₯Ίπ₯Ίπ₯Ί. Barakallahu fiikum
➡️➡️➡️
πͺπ»πͺπ»πͺπ»
Bismillah mulailah ikhtiar kami. Hari 1,
mengkonsumsi probiotik setiap 1 jam sekali. Vitamin becom C, 3x sehari. Siang
diselingi imboost force. Pagi & sore kami minum rimpang hangat (jahe,
kunyit, sereh + madu 3 sendok). Malam hari sebelum tidur, kami minum 5 tetes
kayu putih (dicampur sedikit air hangat) + menghirup uap kayu putih (kayu putih
khusus yg sudah disuling ya, bukan yg dipasaran biasanya itu ππ»). Ruangan kamar kami penuhi dg uap dari
diffuser berisi sereh wangi. Khusus utk saya, pagi & sore minum 1 sendok
VCO.
Hari ke 2, minum probiotik setiap 5 jam sekali.
Ikhtiar yg lain tetap seperti biasa.
Hari ke 3 - 6, probiotik kami minum setiap ba'da
sholat fardhu. Yg lain, tetap dilanjutkan juga.
Untuk mengimbangi semua zat yg masuk kedalam tubuh
kami, minum air hangat (agak panas π€)
adalah solusi. Sebanyak2nya. Supaya tidak memberatkan kerja ginjal nantinya,
katanya sih begitu.
Anak2 pun bertanya, "Umi, kenapa kita minum
banyak banget? " Iya... Ini ikhtiar kita nak, usaha kita sebagai manusia
untuk bisa tetap sehat. Alhamdulillah... diberikan Allah, 3 anak yg sangat
cerdas, mampu mencerna dg cepat apa yg uminya sampaikan. Tanpa protes, tanpa
membantah, menolak atau mengeluh. MasyaAllah watabarakallah, proud of you
kiddos,,, semoga Allah selalu melindungi & meridloi kalian π
➡️➡️➡️
Mulai saat itu kami benar2 membatasi diri, utk
tidak keluar rumah & tidak bertemu siapapun. Selalu pakai masker, jika
sikecil mengeluh sesak, boleh lah lepas masker sebentar. Makan, minum, semua
terpisah. Tidak ada peluk, cium, yg biasa kami lakukan. Utk sholat, kami tetap
berjamaah seperti biasa. Setiap sholat, masing2 orang punya kewajiban utk
minimal 2 lembar, ddan dalam sehari harus tuntas 1 juz. Kecuali sikecil, hanya
muraja'ah juz 30 saja. Sholat malam, sholat dhuha, sholat hajat, baca al
ma'tsurat tidak boleh terlewatkan. Pun dengan infaq subuh, kewajiban kecil yg
selalu dilakukan keluarga kami sejak lama. Karena apalah artinya semua ikhtiar
duniawi kita, jika Allah tidak ridlo. Maka inilah kesempatan untuk lebih mendekat
lagi pada Allah. Menggantungkan harapan hanya pada Allah satu2nya Dzat Yang
Maha Penyembuh. Alhamdulillah anak2 bisa memahami kondisi ini. Jika murottal
biasanya kami nyalakan ketika mau tidur sampai bangun, kali ini mutottal full
24 jam dirumah kami nyalakan (dan sekarang, qodarullah speakernya rusak π¬) Untuk sun bathing, kami melihat situasi, jika sepi
dari tetangga & lalu lalang orang, kami keluar, sun bathing sambil bermain
badminton, bola. 30 menit cukup, masuk rumah lagi.
➡️➡️➡️
Rutinitas itu kami lakukan. Sampai hari Senin, 1
Juni. Hati ini kembali berdebar, ya Allah, besok waktunya kami RT ulang, jika
besok masih reaktif, kami langsung menjalani PCR. Karena data kami sudah masuk
Dinkes Sidoarjo sejak RT pertama.
Allah Rabbiy... Saya tidak mau menjalani itu. Sudah
cukup ya Allah....
Berpikir keras....
Fix, kita kosongkan apa yg kita punya. Bismillah,
mulai transfer kesana kesini, utk infaq ini itu. Segera bikin paket sembako +
kue2. Buah, sayur yg ada semua dibagikan. Tetangga yg membutuhkan, tukang
sampah, tukang air, pak gojek, pak kurir, satpam, saudara yg juga anak yatim...
Yg terjangkaulah dari tempat kami. Sempat terlontar pertanyaan dari anak2,,
"umi kok dibagikan semua, kita ga ada yg disimpan lagi" Saya jawab,
jika kita menolong & membahagiakan orang lain, maka Allah akan mengabulkan
apapun permintaan kita. Setelah ini tinggal kita berdoa sama Allah mau minta
apa. Alhamdulillah sampai pkl 21.00 semua sudah habis terdistribusi. Berangkat
tidur dg perasaan lega, bahagia.
Saat bangun untuk sholat malam, doa kami ternyata
sama π meminta kesembuhan & ikhlas
apapun nanti hasil RT yg kedua.
Pkl 7.30 kami bersiap2 berangkat ke PKM Candi.
Kembali perbanyak istighfar & sholawat, spy driver go car dilindungi Allah.
Sampai PKM Candi, lgsg menemui dr. Singgih. Beliau terima data2 kami, dan
diminta menunggu. Ya Allah,,, hanya istighfar yg selalu keluar dari lisan ini.
Mohon ampun utk semua dosa & kesalahan hingga kami ditegur seperti ini.
Hingga tiba giliran keluarga kami untuk diperiksa.
Selesai semua ber 4. Menunggu 30 menit. Dipanggil kembali oleh dokter.
Subhanallah walhamdulillah Allahu Akbar,, hasil kami semua negatif non reaktif π€²π»π€²π»π€²π»
Advice dokter, untuk keamanan & kebaikan
bersama, tetap melanjutkan isolasi mandiri.
Bersyukur sekali padamu ya Allah...
Rasanya seperti memulai kembali kehidupan baru, dg
semangat baru. Bersedih secukupnya, bersyukur sebanyak2nya.
Utk semua teman2, please, jangan pernah
menyepelekan virus ini. Dia nyata adanya & nyata bekerjanya. Memang tidak
boleh takut khawatir berlebihan, tapi janganlah abai. Kita tidak tahu, kapan,
dimana virus itu berada & bisa menginfeksi kita.
Yang pasti, virus itu makhluk Allah. Kembalikan
saja pada pemilik-Nya. Setelah ikhtiar dunia (medis) kita lakukan maksimal, ya
ketuk pintu langit, atau kalau perlu digedor ya (kurang ahsan juga sihππ»). Supaya Allah benar2 menolong kita. Dan
pastinya sabar, ikhlas, ridlo dg ketetapan Allah, apapun itu.
Sulit, sakit.. Pastinya. Tapi, tidak mungkin Allah
memberi beban diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Stay tawakkal...
Stay safe
Stay health
Utk hasil swab suami, biarlah, apapun hasilnya,
beliau sudah tenang, sesuai harapan, bisa dimakamkan di tanah kelahiran, Ngawi.
Dan tugas kami ber 4, bertahan & berjuang untuk tetap semangat melanjutkan
hidup, dg ditetapkan Iman. So, jangan
tanya2 lagi, apa hasilnya ππ». Wallahul musta'an.
Aini Latifa
Ibu dari 3 anak
Sidoarjo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar